E-learning
Pengertian
e-learning pada umumnya terfokus pada cakupan media atau teknologinya.
E-learning menurut Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu
pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti
internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif,
CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga diartikan sebagai
seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau
Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama proses
pembelajaran (Kumar, 2006). Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai
suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet,
intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan
CD-ROM (Anderson, 2005).
Pengertian
e-learning berbeda dengan pembelajaran secara online (online learning) dan
pembelajaran jarak jauh (distance learning). Online learning merupakan bagian
dari e-learning, hal ini seperti yang dinyatakan oleh Australian National
Training Authority bahwa e-learning merupakan suatu konsep yang lebih luas
dibandingkan online learning, yaitu meliputi suatu rangkaian aplikasi dan
proses-proses yang menggunakan semua media elektronik untuk membuat pelatihan
dan pendidikan vokasional menjadi lebih fleksibel. Online learning merupakan
suatu pembelajaran yang menggunakan internet, intranet dan ekstranet, atau
pembelajaran yang menggunakan jaringan komputer yang terhubung secara langsung
dan luas cakupannya (global). Sedangkan distance learning, cakupannya lebih
luas dibandingkan e-learning, yaitu tidak hanya melalui media elektronik tetapi
bisa juga menggunakan media non-elektronik. Distance learning lebih menekankan
pada ketidakhadiran pendidik setiap waktu. Berdasarkan uraian yang telah
dikemukakan secara umum e-learning dapat diartikan sebagai pembelajaran yang
memanfaatkan atau menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. E-learning
adalah kegiatan belajar yang menggunakan internet yang dapat dikombinasikan
dengan kegiatan tatap muka yang ada di lembaga pendidikan.
Penerapan
e-learning banyak variasinya, karena perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi yang cepat. Surjono (2007), menekankan penerapan e-learning pada
pembelajaran secara online dan dibagi menjadi dua yaitu sederhana dan terpadu.
Penerapan e-learning yang sederhana hanya berupa kumpulan bahan pembelajaran
yang dimasukkan ke dalam web server dan ditambah dengan forum komunikasi
melalui e-mail dan atau mailing list (milist). Penerapan terpadu yaitu berisi
berbagai bahan pembelajaran yang dilengkapi dengan multimedia dan dipadukan
dengan sistem informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai
sarana pendidikan lain, sehingga menjadi portal e-learning. Pembagian tersebut
di atas berdasarkan pada pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran berbasis
web yang ada di internet. Nedelko (2008), menyatakan ada tiga jenis format penerapan
e-learning, yaitu:
a. Web
Supported e-learning, yaitu pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dan
didukung dengan penggunaan website yang berisi rangkuman tujuan pembelajaran,
materi pembelajaran, tugas, dan tes singkat
b. Blended
or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara
tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
c. Fully
online e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara
online termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan
secara online yaitu dengan menggunakan teleconference.
Penerapan
e-learning lebih banyak dimaknai sebagai pembelajaran menggunakan teknologi
jaringan (net) atau secara online. Hal ini berkaitan dengan perkembangan TIK
yang mengarah pada teknologi online. TIK saat ini, lebih difokuskan untuk
pengembangan networking (jaringan) yang memungkinkan untuk mengirim,
memperbaharui, dan berbagi informasi secara cepat. Keberhasilan penerapan dari
e-learning bergantung pada beberapa faktor antara lain teknologi, materi
pembelajaran dan karakteristik dari peserta didik. Teknologi merupakan faktor
pertama yang mempunyai peran penting di dalam penerapan e-learning, karena jika
teknologi tidak mendukung maka sangat sulit untuk menerapkan e-learning,
minimal sekolah mempunyai komputer. Materi pembelajaran juga harus sesuai
dengan tujuan pembelajaran, dijabarkan secara jelas atau diberikan link ataupun
petunjuk sumber pembelajaran yang lain. Karaktersitik peserta didik juga sangat
dibutuhkan karena nilai utama di dalam e-learning adalah kemandirian.
E-learning
sangat berbeda dengan pembelajaran secara tradisional. Pada pembelajaran
tradisional, peran pendidik masih cukup dominan, sedangkan pada e-learning
peserta pendidik harus mempunyai kesadaran untuk belajar secara aktif dan
mandiri. Nedelko (2008), menjelaskan beberapa karakteristik peserta didik yang
dapat mempengaruhi dari keberhasilan e-learning:
1) Mempunyai
pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan komputer dan TIK lainnya, karena
e-learning didukung oleh penggunaan komputer dan peralatan TIK.
2) Motivasi
untuk belajar, peserta didik harus mempunyai kesadaran untuk mempelajari bahan
dan materi yang telah diberikan guru, bukan hanya belajar ketika di kelas saja.
3) Disiplin,
peserta didik harus disiplin untuk belajar, mengerjakan tugas, dan menentukan
waktu dan tempat untuk belajar.
4) Mandiri,
kemandirian peserta didik mutlak diperlukan di dalam e-learning, karena tidak
setiap saat antara peserta didik dan pendidik dapat bertatap muka. Pembelajaran
tatap muka lebih bersifat sebagai diskusi antara peserta didik dengan pendidik,
bukan sebagai transfer pengetahuan saja.
5) Mempunyai
ketertarikan terhadap e-literatur, karena hampir semua materi pembelajaran
disajikan secara online ataupun melalui media elektronik.
6) Dapat
belajar secara sendirian (felling isolation), peserta didik yang ketika belajar
harus secara berkelompok atau ada teman akan merasa kesulitan dengn e-learning.
7) Mempunyai
kemampuan kognitif yang cukup tinggi, peserta didik yang mengikuti e-learning
hendaknya mempunyai kemampuan kognitif tingkat sintesis dan evaluasi, hal ini
dapat untuk mengatasi permasalahan ketidakintesifan pendampingan pendidik dan
teman sebayanya.
8) Mempunyai
kemampuan untuk memecahkan masalah, peserta didik yang dapat memecahkan masalah
secara mandiri akan lebih mudah mengikuti e-learning.
E-learning
membutuhkan model yang harus didisain dalam bentuk pembelajaran inovatif.
Pengembang, mempunyai kesempatan dalam
merencanakan pengalaman sebelumnya untuk penerapan program e-learning. Untuk keperluan
pengembangan e-learning, pengembang konten pembelajaran diharapkan melakukan
keseluruhan dari kecakapan mengajar dalam proses pembelajaran e-learning.
Pengembang diharapkan dapat mengganti kekurangan dari subtansi atau waktu yang
mungkin terjadi dalam pembelajaran konvensional. Walaupun demikian, pengalaman
belajar yang terstruktur dengan baik belum cukup mengganti kekurangan kecakapan
komunikasi dalam proses pembelajaran e-learning. Performansi peserta didik
melalui e-learning adalah memperlihatkan kemampuan e-learning dalam
pengintegrasian proses pembelajaran. Komunikasi elektronik dikombinasikan
dengan proses pengembangan yang dibutuhkan untuk menempatkan suatu pembelajaran
dalam fasilitas format e-learning yang pengintegrasiannya ke dalam penstrukturan
konten.
Konten
e-learning adalah objek yang harus ada agar pembelajaran dapat berjalan,
sedangkan aktor e-learning adalah individu-individu yang melaksanakan
pembelajaran e-learning. Konten e-learning dapat berupa text-based content,
multimedia-based content ataupun kombinasi keduanya (text-based content dan
multimedia-based content).
Aktor
dalam pelaksanakan e-learning dapat dikatakan sama dengan aktor pada
pembelajaran konvensional, dalam pembelajaran diperlukan adanya pengajar atau
tutor yang membimbing, siswa yang menerima bahan ajar dan pengajaran serta
administrator yang mengelola administrasi dan proses belajar mengajar.
Konten
dan aktor memiliki hubungan yang sangat erat, karena konten e-learning dibuat,
disimpan, dirawat dan dipergunakan oleh aktor e-learning itu sendiri. Terdapat
daur hidup (lifecycle) dalam konten e-learning dan aktor adalah pusat dari daur
hidup tersebut. Aktor berperan dalam membua (create), menyimpan (archive),
merawat (maintain) dan mempergunakan (use) konten e-learning.
Setiawan
(2014) melaporkankan bahwa Technology Acceptance Model (TAM) telah mengalami
ekstensi dengan memperhatikakan faktor eksternal, yaitu keyakinan diri (self
efficacy) dan tekanan sosial (sosial influence) yang menjelaskan lebih lanjut
dan penyebab dari kemudahan penggunaan (Perceived Ease Of Use) dan tentang
kemanfaatan (Perceived Usefulness) yang dimiliki pengguna teknologi. Salah satu
faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku penerimaan teknologi adalah
pengaruh sosial (social influence) atau lebih spesifik disebut dengan
psychological attachment.
Pengembangan
Pengembangan
bahan ajar berbasis e-learning dengan materi hidrokarbon dan minyak bumi ini
didasarkan pada model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan (1974),
yakni 4D-Model yang terdiri dari pembatasan (define), perencanaan (design),
pengembangan (develop), dan penyebarluasan (disseminate).
1.
Tahap
pendefinisian (define)
Tahap
pendefinisian (define) adalah untuk menentukan dan menegaskan kebutuhan-kebutuhan
pembelajaran. Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap ini adalah: (1)
analisis ujung depan yang mengarah pada hasil akhir dari pengembangan yakni berupa
bahan ajar berbasis e-learning, (2) analisis siswa, langkah ini menetapkan
subyek pebelajar dan sasaran belajar siswa yaitu siswa kelas X semester 2
dengan materi pokok senyawa hidrokarbon dan minyak bumi dengan karakter siswa
yang telah mengenal internet, dan (3) perumusan indikator hasil belajar yang
dirumuskan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP). Analisis siswa dibedakan menjadi dua, yaitu:
(1) analisis tugas dengan mencari literature dan sumber belajar tentang
hidrokarbon dan minyak bumi dan (2) analisis konsep yang dilakukan dengan
mengidentifikasi konsep-konsep utama yang akan dipelajari.
2.
Tahap
perencanaan (design)
Tahap
perencanaan (design) meliputi tiga langkah yaitu: (1) penyusunan tes dengan membuat
soal yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman materi dan keberhasilan
siswa dalam memahami materi dalam bahan ajar, (2) pemilihan media untuk mendapatkan
media yang tepat sesuai dengan perkembangan era teknologi yang sedang berlangsung,
yaitu media internet, dan (3) perancangan awal yang meliputi membaca buku teks
yang relevan, menulis bahan ajar, adaptasi bahan ajar, konsultasi secara
intensif dengan dosen pembimbing.
3.
Tahap
pengembangan (develop)
Pada
tahap pengembangan (develop) langkah- langkah yang dilakukan adalah:
(1)
konsultasi dengan pembimbing yang bertujuan untuk merancang dan menyusun media
dan instrumen yang akan dipakai dalam penelitian,
(2)
validasi yang merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data tentang nilai yang
diperoleh dari validator,
(3)
analisis hasil validasi, hasil validasi dianalisis sesuai dengan penilaian,
saran, dan kritik dari validator,
(4)
revisi bahan ajar berbasis e-learning yang bertujuan untuk menyempurnakan bahan
ajar yang akan digunakan, dan
(5)
uji coba terbatas, tujuan uji coba ini hanya untuk mengetahui kelayakan dari
produk pengembangan yakni bahan ajar berbasis e-learning.
4.
Tahap
penyebarluasan (disseminate)
Tahap
keempat yaitu penyebarluasan (disseminate) merupakan tahap penggunaan bahan
ajar yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas. Tahap ini bertujuan
untuk menguji efektivitas penggunaan bahan ajar berbasis e-learning hasil
pengembangan. Dalam pengembangan ini, tahap penyebarluasan (disseminate) tidak
dilakukan karena pertimbangan keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Selain
itu, disesuaikan dengan tujuan pengembangan bahan ajar berbasis e-learning
yakni untuk mengetahui kelayakan bahan ajar bukan untuk mengukur prestasi
belajar siswa.
Teknis Pelaksanaan E-Learning
Secara
garis besar, teknis pelaksanaan e-learning dapat dilakukan dengan dua cara,
yakni: (1) hanya menggunakan media Web biasa, dan (2) menggunakan software
khusus e-learning berbasis Web yang sering disebut dengan istilah learning management
system (LMS). Pada cara pertama, materi-materi pembelajaran disajikan pada
sebuah situs Web. Siapapun dapat mengakses materi secara bebas atau dibatasi
dengan password (seperti model langganan majalah/ jurnal). Komunikasi bisanya
dilakukan menggunakan e-mail atau forum diskusi khusus. Dalam hal ini biasanya
tidak terdapat fasilitas portofolio, sehingga dosen tidak memiliki informasi siapa
yang telah mengakses materi tertentu dan kapan akses dilakukan. Yang diperlukan
untuk menggunakan pendekatan ini hanyalah sebuah server Web.
Pada
cara kedua, selain diperlukan server Web juga diperlukan sebuah software (LMS) yang
berfungsi untuk mengelola e-learning. Software (sistem) LMS biasanya mempunyai
fasili tas-fasilitas yang berfungsi untuk (1) administrasi mahasiswa, (2) penyajian
materi, (3) komunikasi,(4) pencatatan (portofolio), (5) evaluasi, bahkan (6)
pengembangan materi. Berbeda dengan akses ke Web biasa, akses ke LMS biasanya
memerlukan nama user dan password, dan biasanya hanya dosen dan mahasiswa yang
terdaftar yang dapat melakukannya. Sistem LMS akan mencatat semua aktivitas
yang dilakukan mahasiswa selama mereka masuk ke dalam system e-learning. Pada gambar
berikut menyajikan diagram arsitektur sistem e-learning berbasis LMS (diadopsi
dari Kojhani, 2004).
Gambar
1 Arsitektur Sistem E-Learning
Gambar 2 Alur Belajar dalam Bahan Ajar Berbasis E-learning
Sumber:
Anderson, B. (2005). “Strategic e-learning
implementation.” Educational Technology & Society, 8 (4), 1-8. 1. ISSN
1436-4522
Rahmaniyah, Anna. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis E-Learning Pada Materi Hidrokarbon Dan Minyak Bumi Kelas X Semester
2. (Online), http://jurnal-online.um.ac.id/, diakses 15 Februari
2016.
Sahid. 2006. Pembelajaran Kimia
Polimer Melalui E-Learning. http://staff.uny.ac.id/sites/,
diakses 15 Februari 2016
Permasalahan
1. Bagaimana cara meningkatkan kesadaran siswa untuk aktif belajar secara mandiri melalui pengembangan e-learning
2. Manakah yang lebih efektif menggunakana web biasa atau learning management system (LMS) dalam pelaksanaan e-learning, jelaskan alasannya
3. Bagaimana cara guru mengawasi apakah pembelajaran berjalan dengan baik atau tidak jika digunakan Fully online e-learning format
Permasalahan
1. Bagaimana cara meningkatkan kesadaran siswa untuk aktif belajar secara mandiri melalui pengembangan e-learning
2. Manakah yang lebih efektif menggunakana web biasa atau learning management system (LMS) dalam pelaksanaan e-learning, jelaskan alasannya
3. Bagaimana cara guru mengawasi apakah pembelajaran berjalan dengan baik atau tidak jika digunakan Fully online e-learning format
12 komentar
Baiklah saya akan menjawab pertanyaan nomor 2, berdasarkan uraian anada pada materi ini menurut saya lebih efektif menggunakan LMS karena
BalasHapusSoftware (sistem) LMS biasanya mempunyai fasili tas-fasilitas yang berfungsi untuk (1) administrasi mahasiswa, (2) penyajian materi, (3) komunikasi,(4) pencatatan (portofolio), (5) evaluasi, bahkan (6) pengembangan materi. Berbeda dengan akses ke Web biasa, akses ke LMS biasanya memerlukan nama user dan password, dan biasanya hanya dosen dan mahasiswa yang terdaftar yang dapat melakukannya. Sistem LMS akan mencatat semua aktivitas yang dilakukan mahasiswa selama mereka masuk ke dalam system e-learning.
Saya ingin mencoba menjawab pertanyaan ketiga saudari,Fully online e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara online termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan secara online yaitu dengan menggunakan teleconference.
BalasHapusteleconference adalah pertemuan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang dilakukan melewati telefon atau koneksi jaringan. Pertemuan tersebut bisa menggunakan suara (audio conference) atau menggunakan audio-video (video conference) yang memungkinkan peserta konferensi saling melihat dan mendengar apa yang dibicarakan, sebagaimana pertemuan biasa. Dalam telekonferensi juga dimungkinkan menggunakan whiteboard yang sama dan setiap peserta mempunyai kontrol terhadapnya Jadi, juga berbagi aplikasi.
Menurut saya dengan menggunakan teleconference maka guru dapat mengawasi secara langsung kegiatan siswa siswanya yang tergabung dalam fully online learning tersebut. Hal ini sama seperti tatap muka biasa hanya saja dilakukan secara online
Saya sependapat dengan saudarI munika pengajar juga bisa melakukan sesi Tanya jawab kepada sisiwanya setelah ITU diadakan evaluasi dengan pemberian soal kepada siswa Dan langsung dilakukan penilainanya
HapusAssalamualaikum Wr. Wb.
BalasHapusTanggapan saya untuk Permasalahan no 1 :
Belajar mandiri merupakan kegiatan belajar aktif yang didorong oleh niat atau motif untuk menguasai suatu kompetensi guna untuk menyelesaikan suatu masalah, hal tersebut dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang telah dimiliki. Penetapan kompetensi sebagai tujuan belajar, dan cara pencapaiannya baik penetapan waktu belajar, tempat belajar, sumber belajar maupun evaluasi hasil belajar dilakukan oleh pembelajaran mandiri.
belajar mandiri lebih ditentukan oleh motif belajar yang timbul di dalam diri pembelajar, maka pendidik dalam menyelenggarakan pembelajarannya dituntut untuk dapat menumbuhkan niat atau motif belajar dalam diri pembelajar. Oleh karena itu pendidik harus sungguh-sungguh menguasai bidang studinya. Selain itu mereka harus menguasai berbagai teknik mengajar untuk menarik pembelajar terhadap materi pelajarannya dan selanjutnya tertarik untuk mempelajarinya sendiri lebih jauh. Berbagai teknik belajar juga perlu dikuasai oleh pendidik untuk diajarkan atau dilatihkan kepada pembelajar agar mampu melakukan kegiatan belajar lebih jauh tanpa bantuan sepenuhnya oleh pendidik.
Terima kasih :)
Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya akan menanggapi permasalahan no. 2 menurut saya learning management system lebih efektif dibandingkan web biasa karena Seperti yang kita ketahui LMS merupakan sistem untuk mengelola catatan pelatihan dan pendidikan, perangkat lunaknya untuk mendistribusikan program melalui internet dengan fitur untuk kolaborasi secara ‘’online’’.
BalasHapusLMS Juga menyediakan Fitur-fitur yang terdapat dalam LMS pada umumnya antara lain adalah sebagai berikut:
1. Administrasi, yaitu informasi tentang unit-unit terkait dalam proses belajar mengajar :
a. Tujuan dan sasaran
b. Silabus
c. Metode pengajaran
d. Jadwal kuliah
e. Tugas
f. Jadwal ujian
g. Daftar referensi atau bahan bacaan
h. Profil dan kontak pengajar
i. Pelacakan/tracking dan mmonitorig
2. Penyampaian materi dan kemudahan akses ke sumber referensi :
a. Diktat dan catatan kuliah
b. Bahan presentasi
C. Contoh ujian yang lalu
d. FAQ (Frequently Asked Questions)
e. Sumber-sumber referensi untuk pengerjaan tugas
f. Situs-situs bermanfaaat
g. Artikel-artikel dalam jurnalonline
3. Penilaian
4.Ujian online dan pengumpulan feedback
5.Komunikasi :
a. Forum diskusi online
b. Mailing list diskusi
c. Chat
Salah satu contoh LMS Moodle adalah sebuah nama untuk sebuah program aplikasi yang dapat merubah sebuah media pembelajaran kedalam bentuk web. Aplikasi ini memungkinkan siswa untuk masuk kedalam "ruang kelas" digital untuk mengakses materi-materi pembelajaran. Dengan menggunakan Moodle, kita dapat membuat materi pembelajaran, kuis, jurnal elektronik dan lain-lain. Moodle itu sendiri adalah singkatan dari Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment
saya ingin mencoba menjawab pertanyaan nomor satu, bagaimana anak aktif belajar secara mandiri melalui pengembangan e-learning? menurut pendapat saya dengan memberikan tugas yang berhubungan dengan internet atau menonton yang berkaitan dengan materi yang kita ajarkan. sesuai dengan pribahasa ala bisa karna terbiasa.
BalasHapusSaya akan menanggapi permasalah nomor satu terkait cara meningkatkan kesadaran siswa untuk aktif belajar secara mandiri melalui pengembangan e-learning yaitu dengan memberikan soal-soal ataumun melakukan video call sembari menjelaskan dan membuka sesi diskusi pada siswa-siswa.
BalasHapusBaiklah saya akan menjawab permasalahan no 2
BalasHapusMenurut saya lebih efektif menggunakan learning management system (LMS), sebab Teknologi inovasi LMS sendiri merupakan sebuah sistem perangkat lunak yang dapat membantu merencanakan, mengimplementasikan, memonitor, serta mengevaluasi sebuah pembelajaran. Seorang guru dapat mudah memberikan materi belajar dan tugas-tugas secara online kemudian memberikan penilaian atau laporan evaluasi kepada muridnya. Seorang murid pun dapat dengan mudah mengakses metode pembelajaran dan berkonsultasi dua arah melalui perangkat digital bias melalui chat atau video call. Keunggulan metode e-learning berbasis LMS adalah lebih menghemat biaya, waktu, fleksibel, serta kegiatan belajar mengajar menjadi lebih efektif dan efisien.
Baiklah untuk meningkatkan keinginan siswa dalam pembelajaran e learning kita sebagai seorang guru dapat dengan membuat nilai nilai tambah sehingga siswa pun termotivasi
BalasHapusbaiklah saya akan menambahkan permasalahan no 1 yaitu Kesadaran diri (consciousness) merupakan alternatif untuk memaksimalkan pembelajaran pada peserta didik, karena kesadaran merupakan modal penting bagi peserta didik dalam memperoleh pengetahuan dan pendidikan. Kesadaran dimulai dengan pengetahuan dasar atau beberapa jenis kemampuan yang belum sempurna untuk mengetahui atau menyadari apa yang terjadi. Kesadaran merupakan energi pokok yang luar biasa yang terdapat pada pikiran yang berpengalaman secara sadar. Energi di sini maksudnya adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu dan kemampuan menciptakan sesuatu yang terjadi (Benjamin Wallace & Leslie E. Fisher, 1987:7). Dengan kesadaran yang dimiliki oleh para siswa dalam belajar maka mereka bisa menumbuhkan apa yang disebut sebagai kemauan belajar mandiri (self-directing learning) sebagai konsep dasar pembelajaran-pembelajaran konstruktivisme, terutama konsep pembelajaran Inquiry atau Discovery Learning yang marak diterapkan dewasa ini.
BalasHapusBaiklah saya akan menjawab no menurut saya dengan adanya Interaksi
BalasHapusBelajar akan terjadi dan meningkat kualitasnya bila terjadi suasana interaksi dengan orang lain. Interaksi dapat berupa diskusi, saling bertanya dan mempertanyakan, saling menjelaskan, dll. Pada saat orang lain mempertanyakan pendapat kita atau apa yang kita kerjakan maka kita terpacu untuk berpikir menguraikan lebih jelas lagi sehingga kualitas pendapat itu lebih baik.di dalam pembelajaran a learning
Saya ingin menanggapi permasalahan pertama, menurut saya caranya adalah dengan terus memberikan nasehat kepada siswa tentang pentingnya pendidikan bagi dirinya sendiri maupun orang disekitarnya, menumbuhkan motivasi belajar melalui reward, media dan kondisi belajar yang menyenangkan, dll.
BalasHapus